Jangan Remehkan Tahiyatul Masjid, Meremehkannya Tanda Dekatnya Kiamat!
Oleh: Badrul Tamam
Alhamdulillah segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya.
Ketika seseorang memasuki masjid, janganlah ia duduk sehingga melaksanakan shalat dua rakaat yang disebut dengan tahiyatul masjid. Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ
“Jika salah seorang kalian masuk masjid, maka janganlah duduk sebelum mengerjakan shalat dua rakaat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tujuan dari pelaksanaan shalat dua rakaat ini adalah untuk menghormati masjid. Karena masjid memiliki kehormatan dan kedudukan mulia yang harus dijaga oleh orang yang memasukinya. Yaitu dengan tidak duduk sehingga melaksanakan shalat tahiyatul masjid ini. Karena pentingnya shalat ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetap memerintahkan seorang sahabatnya – Sulaik al-Ghaathafani – yang langsung duduk shalat memasuki masjid untuk mendengarkan khutbah dari lisannya. Ya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak membiarkannya duduk walaupun untuk mendengarkan khutbah dari lisannya, maka selayaknya kita memperhatikan shalat ini.
Begitu juga Jabir radhiyallahu ‘anhu, saat ia datang ke masjid untuk mengambil harga untanya yang dijualnya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau memerintahkannya untuk shalat dua rakaat. (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibnu Hibban dalam Shahihnya, dari hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dia pernah masuk masjid, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya padanya, “Apakah kamu sudah shalat dua rakaat?” Dia menjawab, “Belum.” Beliau bersabda, “Bangunlah, laksanakan dua rakaat!”
Maka berdasarkan dalil-dalil tersebut di atas, seluruh ulama sepakat tentang disyariatkannya shalat tahiyatul masjid (Fathul Baari: 2/407). Bahkan sebagiannya -khususnya dari madzhab Dzahiriyah- berpendapat wajib dengan berpatokan pada dzahir hadits. Sedangkan jumhur ulama berpendapat sunnah, berdasarkan beberapa hadits lain yang memalingkannya kepada anjuran. Di antaranya, hadits tentang shalat lima waktu, maka ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apakah aku punya kewajiban selainnya?” Beliau menjawab, “Tidak, kecuali bila engkau mengerjakan yang sunnah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pengarang Shahih Fiqih Sunnah menguatkan pendapat jumhur dengan menyebutkan hadits Waqid al-Laitsi, “Bahwasanya tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamshallallahu ‘alaihi wasallam, dan yang satunya pergi. Kemudian keduanya berdiri di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Adapun salah seorang dari keduanya melihat celah di majlis itu, maka ia duduk di tempat yang kosong itu. Sedangkan yang lainnya duduk di belakang mereka. Adapun yang ketiga langsung pergi. sedang duduk di dalam masjid bersama jama’ah, tiba-tiba datanglah tiga orang. Dua orang mendatangi Rasulullah
Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai dari majlisnya, beliau bersabda: “Maukah aku kabarkan tentang tiga orang tadi? Adapun seorang dari mereka, ia datang menemui Allah maka Allah datang menemuinya. Adapun yang seorang tadi, ia malu maka Allah malu kepadanya. Adapun yang seorang lagi, ia berpaling maka Allah berpaling darinya”.” (Al-Bukhari)
Menurut Syaikh Abu Malik Kamal, kedua orang tersebut langsung duduk dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memerintahkannya untuk shalat dua rakaat. Wallahu a’lam.
Seluruh ulama sepakat tentang disyariatkannya shalat tahiyatul masjid (Fathul Baari: 2/407).
Bahkan sebagiannya -khususnya dari madzhab Dzahiriyah- berpendapat wajib dengan berpatokan pada dzahir hadits.
Sedangkan jumhur ulama berpendapat sunnah, berdasarkan beberapa hadits lain yang memalingkannya kepada anjuran.
Siapa yang dikecualikan dari perintah ini?
Ada beberapa orang yang dikecualikan dari perintah shalat tahiyatul masjid, yaitu:
1. Khatib Jum’at, apabila dia masuk masjid untuk khutbah Jum’at, tidak disunnahkan shalat dua rakaat. Tapi dia langsung berdiri di atas mimbar, mengucapkan salam lalu duduk untuk mendengarkan adzan, kemudian baru menyampaikan khutbah.
2. Pengurus masjid yang berulang-kali keluar masuk masjid. Kalau ia melaksanakan shalat tahiyatul masjid setiap masuk masjid, maka sangat memberatkan baginya.
3. Orang yang memasuki masjid saat imam sudah mulai memimpin shalat berjama’ah atau saat iqamah dikumandangkan, maka ia bergabung bersama imam melaksanakan shalat berjama’ah. Karena shalat fardhu telah mencukupi dari melaksanakan tahiyatul masjid. (Lihat Subulus Salam, Imam al-Shan’ani: 1/320)
Sebagian ulama lainnya, tetap menganjurkan untuk melaksakan tahiyatul masjid setiap memasuki masjid, walau dia bolak-balik masuk masjid. Di antara ulama yang berpendapat seperti ini adalah Imam al-Nawawi, Ibnu Taimiyah, dan dzahir dari pendapat madzhab Hambali. (Lihat: al-Majmu’: 4/320)
Imam Syaukani dalam Naulil Authar (3/70) berpendapat bahwa tahiyatul masjid tetap disyariatkan setiap kali masuk masjid walaupun berulang kali masuk masjid berdasarkan dzahir hadits. Wallahu a’lam.
Hikmah Tahiyatul Masjid
Melaksanakan tahiyatul masjid merupakan bentuk pemuliaan terhadap masjid sebagai baitullah (rumah Allah). Kedudukannya seperti mengucapkan salam saat memasuki rumah atau seperti mengucapkan salam saat bertemu saudara seiman.
Imam Nawawi rahimahullaah berkata, “Sebagian mereka (ulama) mengungkapkannya dengan Tahiyyah Rabbil Masjid (menghormati Rabb -Tuhan yang disembah dalam- masjid), karena maksud dari shalat tersebut sebagai kegiatan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah, bukan kepada masjidnya, karena orang yang memasuki rumah raja, ia akan menghormat kepada raja bukan kepada rumahnya.” (Lihat: Hasyiyah Ibnu Qasim: 2/252)
Shalat dua rakaat saat memasuki masjid berarti menghormati dan mengagungkan Rabb yang disembah di dalamnya.
Di Akhri Zaman Tahiyatul Masjid Diremehkan
Syaikh Yusuf bin Abdullah bin Yusuf al-Wabil dalam kitabnya Asyratus Sa’ah menyebutkan bahwa salah satu tanda dekatnya hari kiamat adalah munculnya sikap meremehkan sunnah-sunnah yang dianjurkan Islam dan Syi’ar-syi’ar Allah Subhanahu wa Ta’ala. Salah satunya adalah tidak melaksanakan tahiyatul masjid saat memasukinya, sebagaimana yang disinyalir dalam sebuah hadits, dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku Mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَمُرَّ الرَّجُلُ فِي الْمَسْجِدِ لَا يُصَلِّي فِيْهِ رَكْعَتَيْنِ
“Sesungguhnya di antara tanda-tanda dekatnya kiamat adalah seseorang melalui (masuk) masjid, namun tidak melakukan shalat dua rakaat di dalamnya.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya. Syaikh Al-Albani memasukkan hadits ini dalam Silsilah al-Ahadits al Shahihah: 2/253 no. 649 dengan memberikan catatan kaki di bawahnya bahwa dalam sanadnya ada yang dhaif, tapi ia memiliki jalur lain dari Ibnu Mas’ud yang memperkuat sanadnya).
Dan dalam riwayat lain disebutkan;
أَنْ يَجْتَازَ الرَّجُلُ بِالْمَسْجِدِ فَلَا يُصَلِّي فِيْهِ
“Orang melalui masjid tapi tidak melakukan shalat di dalamnya.” (HR. Al-Bazzar dan dishahihkan oleh Al-Haitsami dalam Majma’uz Zawaid: 7/329)
Dan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ تُتَّخَذَ المَسَاجِدُ طُرُقًا
“Sesungguhnya di antara tanda-tanda dekatnya kiamat adalah masjid dijadikan sebagai jalan (tempat berlalu lalang).” (HR. Musnad al-Thayalisi dan Al-Mustadrak al-Hakim. Syaikh Al-Albani menghasankan redaksi serupa dalam Shahih Al-Jami’ no. 5899)
Bahkan secara jelas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menjadikan masjid sebagai tempat lalu lalang tanpa ditegakkan shalat tahiyatul masjid ketika memasukinya.
لَا تَتَّخِذُوا المَسَاجِدَ طُرُقًا ، إِلَّا لِذِكْرٍ أَوْ صَلَاةٍ
“Janganlah kalian jadikan masjid sebagai jalan (tempat lewat), kecuali untuk berdzikir atau shalat.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Kabir: 12/314 dan al-Ausath: 1/14. Syaikh Al-Albani rahimahullaah mengatakan, “Sanad ini hasan, seluruh rijalnya (perawinya) tsiqat (terpercaya).” Lihat: Silsilah Shahihah no. 1001)
Sedangkan maksud menjadikan masjid sebagai jalan adalah dengan menjadikannya sebagai tempat lewat atau berlalunya manusia untuk memenuhi hajat mereka. Masuk dari satu pintu masjid dan keluar dari pintu lainnya tanpa melaksanakan shalat di dalamnya. Sedangkan orang yang masuk masjid dan shalat di dalamnya tidak dikategorikan sebagai orang yang menjadikan masjid sebagai tempat lalu lalang yang dilarang.
Al-Hasan al-Bashri ternah ditanya, “Tidakkah Anda benci kalau ada seseorang lewat di dalam masjid lalu tidak shalat di dalamnya? Beliau menjawab, “Pasti (saya benci).” (Lihat al-Mushannaf milik Abdul Razaq: 3/154-158)
. . . salah satu tanda dekatnya hari kiamat adalah munculnya sikap meremehkan sunnah-sunnah yang dianjurkan Islam dan Syi’ar-syi’ar Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Salah satunya adalah tidak melaksanakan tahiyatul masjid saat memasukinya,
Di Mana Letak Keburukannya?
Orang yang sengaja meninggalkan tahiyatul masjid saat memasukinya tanpa ada udzur telah melakukan tindakan yang tidak sesuai sunnah dan tidak mengagungkan syi’ar Allah (segala sesuatu yang dijadikan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah). Padahal yang demikian itu merupakan tanda iman dan takwa sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
“Dan barangsiapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)
Kalau begitu tradisi dan budaya yang sedang menggejala di tengah-tengah umat, menjadikan masjid sebagai tempat melangsungkan akad nikah dan resepsi tanpa menghormati dan menjaga adab-adab masjid termasuk bagian yang dilarang. Para hadirin masuk tanpa melakukan tahiyatul masjid, membiarkan maksiat di dalamnya berupa ikhtilath (bercampurnya laki-laki dan perempuan dalam masjid), wanita yang berdandan ala jahiliyah, nyanyian-nyanyian dan sebagainya.
Dan bencana yang lebih besar lagi adalah dijadikannya masjid sebagai tempat rekreasi dan bersenang-senang bagi orang-orang kafir setelah sebelumnya menjadi tempat untuk berdzikir dan beribadah sebagaimana kebanyakan masjid yang berada di Negara-negara yang berada di bawah kekuasaan kafir.
Penutup
Kiranya kita sebagai umat Islam yang mengetahui keagungan masjid senantiasa menjaga adab-adabnya dan mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah di dalamnya dengan senantiasa menjaga dua rakaat tahiyatul masjid saat memasukinya dan tidak membuat tindakan yang menciderai kehormatan dan kemuliaan masjid dengan melakukan kemaksiatan dan pelangaran di dalamnya. Wallau Ta’ala a’lam.
Jangan Banyak Mengeluh, Bersyukurlah! Kekayaan Hati Yang Hakiki
Segala puji bagi Allah shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita Rasulullah keluarganya para shahabatnya dan yang selalu mengikutinya dengan baik hingga hari kiamat. Amma ba’du:
Para pembaca yang dirahmati Allah Ta’alaa:
Kebanyakan manusia mengira bahwa kekayaan hanyalah dengan mengumpulkan harta berupa uang, saham, property, perdagangan dan lainnya, menurut mereka orang yang tidak demikian bukan orang kaya, akan tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memalingkan pandangan kita kepada makna kekayaan yang hakiki dalam sabdanya:
” ليس الغنى عن كثرة العرض، ولكن الغنى غنى النفس”.
Artinya: (kekayaan bukanlah banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kekayaan hati).
Berapa banyak manusia yang memiliki bermacam harta yang banyak tetapi sebenarnya dia hidup dalam kefakiran, kita melihatnya selalu takut dan gundah, berusaha menambah hartanya karena takut jatuh miskin, dia bakhil untuk menafkahkan hartanya dalam hal kebaikan supaya hartanya tidak berkurang, bahkan terkadang memutuskan silaturahim gara-gara alasan yang sama, sebagaimana kita lihat dia selalu menoleh kepada harta orang lain, orang seperti ini selamanya hidup fakir, karena dia tidak ridho dengan pembagian Allah Ta’alaa untuknya, dan karena dunia telah menetap dalam hatinya.
Inilah kisah Khubaib bin ‘Adi radhiallahu anhu berkata: ketika itu kami berada dalam satu masjlis lalu datanglah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang bekas air membasahi kepalanya lalu sebagian kami berkata: kami melihat anda hari ini sedang senang hati maka beliau menjawab: “benar dan Alhamdulillah”. Kemudian orang-orang menceritakan tentang kekayaan maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لا بأس بالغنى لمن اتقى ، والصحة لمن اتقى خير من الغنى ، وطيب النفس من النعيم” .( صحيح سنن ابن ماجة).
Artinya: (tidak mengapa kekayaan bagi yang bertakwa, dan kesehatan bagi yang bertakwa lebih baik dari kekayaan, dan senang hati termasuk kenikmatan) Shahih Ibnu Majah.
Janganlah menoleh kepada milik orang lain:
Karena Allah Azza wa Jalla berfirman:
(وَلا تَمُدَّنَ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجاً مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى) (طـه:131).
Artinya: (dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal) [QS Thahaa: 131].
Demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dan ridholah dengan pembagian Allah Ta’alaa untukmu pasti kamu menjadi orang yang paling kaya” artinya adalah: terimalah apa yang diberikan Allah kepadamu, dan dijadikan nasibmu dari rizki, kamu menjadi orang terkaya, karena yang bersikap qana’ah maka dia merasa kaya.
Marilah kita merenungkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
” من أصبح منكم آمنا في سربه، معافى في جسده، عنده قوت يومه، فكأنما حيزت له الدنيا بحذافيرها “.
Artinya: (Barang siapa yang pagi harinya merasa aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, memiliki makanan hari itu, seolah dia telah mendapatkan kekayaan dunia).
Jika anda melihat orang yang lebih banyak harta dan anak dari dirimu maka ketahuilah bahwa ada orang yang lebih sedikit harta dan anaknya jadi lihatlah mereka yang dibawahmu, jangan melihat mereka yang diatasmu, demikianlah Nabi shallallahu ’alaihi wasallam mengajarkan kita dalam sabdanya:
“انظروا إلى من هو أسفل منكم، ولا تنظروا إلى من هو فوقكم، فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم”.
Artinya: (lihatlah orang yang dibawahmu, dan janganlah melihat orang yang diatasmu, karena itu lebih pantas supaya kamu tidak meremehkan nikmat Allah atasmu).
Orang lain dengan urusannya dan anda dengan urusan anda sendiri:
Seorang muslim sadar bahwa dia ada di dunia ini untuk satu tujuan yang agung dan mulia lagi tinggi yaitu beribadah kepada Allah Ta’alaa, dan mengibadahkan manusia kepada Allah Ta’alaa, oleh karena itu dunia tidak boleh melampaui batasnya, karena dunia disisinya hanya wasilah bukan tujuan, diatas makna yang agung inilah Nabi shallallahu ’alaihi wasallam mendidik para shahabatnya radhiallahu anhum.
Inilah kisah Rib’ie bin ’Amir bersama Rustum penguasa Persia sebagai saksi bagi makna yang tinggi dan tujuan mulia ini, saat Rustum meminta dari panglima Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu anhu untuk mengirim seorang utusan untuk bernegosiasi sebelum dimulai peperangan Qadisiyah, maka beliau mengutus Mughirah bin Syu’bah, ketika itu yang dikatakan kepada Rustum: sesungguhnya kami tidak mencari dunia, ambisi dan keinginan kami hanyalah akhirat, kemudian Sa’ad mengirim utusan lain kepadanya yaitu Rib’ie bin ’Amir, lalu memasukinya sedangkan mereka telah menghiasi majlisnya dengan bantal-bantal bertahtakan emas dan sutra, mereka memperlihatkan intan dan permata yang berharga, dia sedang duduk diatas dipan dari emas, dan Rib’ie masuk dengan pakaian usang, pedang, tameng dan kuda yang kecil, dia terus menaikinya sampai menginjak ujung permadani kemudian turun mengikatnya dengan sebagaian bantal tadi, dan maju dengan senjata dan baju besinya, lalu mereka berkata: letakkan senjatamu, diapun berkata: saya tidak mendatangi kalian, tapi saya mendatangi kalian ketika kalian mengundangku, maka jika kalian membiarkanku begini, maka saya teruskan, jika tidak aku kembali, maka Rustum berkata: izinkan dia, lalu dia menghadap dengan bersandar tombaknya diatas bantal-bantal dan mengoyaknya, seolah mengatakan kepada mereka secara langsung: dunia kalian ini tidak mempedayakan kami apalagi menyibukkan kami, lalu mereka berkata: apa yang membuat kalian datang? Dia menjawab: Allah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa yang mau dari peribadatan hamba kepada peribadatan kepada Allah, dan dari sempitnya dunia menuju luasnya akhirat, dari kezaliman agama-agama kepada keadilan Islam, maka kami diutus dengan agama-Nya kepada makhluk-Nya supaya menyeru mereka kepada-Nya, maka siapa saja yang menerima itu maka kami menerimanya dan kami kembali, dan siapa yang enggan menerima kami memeranginya selamanya sampai mencapai janji Allah Ta’aala, mereka bertanya: apa janji Allah? Dia menjawab: surga bagi yang mati saat memerangi mereka yang enggan, dan kemenagan bagi yang tertinggal.
Subhanallah, dalam keadaan fakir hampir tidak mendapatkan dunia sedikitpun berbicara tentang tujuannya termasuk mengeluarkan manusia dari sempitnya dunia menuju luasnya dunia dan akhirat!!.
Sungguh dahulu jika mereka mendapatkan dunia hanya di tangan mereka tidak sampai masuk kedalam hati mereka, oleh karena itu ketika mereka diminta untuk berinfak mereka kerahkan harta tanpa rasa takut fakir atau habis hartanya, pernah Umar datang dengan separuh hartanya sedangkan Abu Bakar radhiallahu anhu dengan seluruh hartanya ketika ditanya apa yang ditinggalkan untuk keluarganya? Dia menjawab: Allah dan rasul-Nya. Subhanallah, tidak pernah takut fakir. Juga Utsman radhiallahu anhu pernah mempersiapkan pasukan ketika masa sulit.
Jadi janganlah mengeluh, karena disekitar kita banyak yang kurang beruntung dari kita, sangat disayangkan jika seorang muslim hanya sampai dunia yang fana saja ambisinya dan mengorbankan akhiratnya.
Wallahu A’lam bishowab.
(ar/voa-islam.com)
RENUNGAN
Orang yang berusia 60 tahun diperkirakan menghabiskan masanya selama 20 tahun hanya untuk tidur. Sekiranya tidur mengikuti sunah Rosululloh SAW. Maka tidurnya akan menjadi Ibadah.
Antara sunah-sunah Nabi sebelum, ketika dan selepas tidur.
* Sebelum dan selepas tidur baca doa tidur. Banyak yang menyepelekan doa harian, padahal harga yang Allah janjikan adalah syurga.
* Jangan tidur menghadap kaki arah kiblat. Ini adalah kedudukan tidur orang yang telah mati.
* Barang siapa yang membaca tasbih subhanallah 33X, alhamdulillah 33X. Allahuakbar 33X, sekiranya dia mati malam itu, dia akan dikira sebagai mati syahid.
* Niat untuk bangun tahajud. Sekiranya tidak terjaga, Allah SWT. Akan menghitung seolah-olah dia bertahajjud sepanjang malam. Tahajjud adah sebaik-baik pelindungdaripada sihir dan buatan orang.
* Ambil air wudhu sebelum tidur dan sholat sunat taubat 2 rakaat.
* Maafkan smua kesalahan manusia pada kita dan halalkan semua hutang piutang sebelum tidur.
* Tidur cara Rosulullah SAW dengan memiringkan badan ke kanan dan tapak tangan di bawah pipi. Rosulullah melarang tidur dalam posisi tengkurap terutama lelaki.
Banyak lagi sunah Nabi yang semuanya mudah untuk dilaksanakan. Lebih mudah dari pada bersolek atau pakai night cream sebelum tidur. Lebih mudah dari pada senam ringan sebelum tidur, dan yang pasti lebih bermanfaat.
Allah hanya menerima Ibadat yang Ikhlas. Tidur adalah ibadah yang paling Ikhlas. Seseorang tidak perlu di paksa untuk tidur. Ganjaran Allah SWT untuk orang yang mengamal kan sunah sangat besar.
Didalam tidur sendiri ada banyak sunnah. Sebaliknya, jika seseorang tidur dengan cara selain dari cara Rosulullah SAW, dia hanya akan dapat keistirahatan yang tak bermanfaat dengan kata lain selama 20 tahun dalam usia 60 tahun dia akan menciduk 20 liter atau lebih air liur.
Kebangkitan Palestina Yang Perkasa
Palestina merupakan salah satu kota yang diberkahi dan dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dimana berada mesjid Al-Aqso tempat kiblat umat Islam pertama sekali dan bangunan paling suci ketiga setelah Ka’bah di Makkah dan mesjid Nabi Muhammad di Madinah serta tempat dilahirkannya nabi-nabi pilihan. Palestina sepenuhnya adalah milik bangsa Arab (Islam) dan Yahudi tidak berhak untuk memilikinya.
Tapi sepanjang perjuangannya untuk mewujudkan kemenangan itu harus menunggu waktu yang sangat lama. Saat ini kita melihat berbagai penindasan, pencaplokan, dan penodaan dari kaum zionis Yahudi yang dilakukan terhadap tanah Palestina dan rakyatnya. Seperti yang kita lihat banyak anak-anak menjadi yatim, wanita disiksa, rakyat yang kehilangan pekerjaan, makan hanya satu kali sehari bahkan mencari air pun mereka susah. Akhir-akhir ini rakyat di Gaza mengalami pemadaman listrik hingga 65% sehingga rakyat pada marah dan melakukan aksi besar-besaran mengecam pemerintahan Fayadh. Setiap malam, mereka hanya memakai lilin sebagai penerangan. Astagfirullah..
Intifada di Palestina berawal pada tanggal 9 Desember 1987 dimana terjadilah sebuah perang perlawanan terhadap Zionis Yahudi Laknatullah. Itu adalah pertempuran terdasyat sejak Proklamasi negara Zionis Israel tahun 1948. Intifada1 berasal dari kata berbahasa Arab intifadlah yang dari asal kata nafadla berarti gerakan, goncangan, revolusi, pembersihan, kebangkitan, kefakuman menjelang revolusi, dan gerakan yang diiringi dengan kecepatan dan kekuatan. Awal peperangan mereka hanya dilakukan dengan batu tanpa persenjatan apapun. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, alhamdulillah persenjataan canggihpun mereka memilikinya. Intifada pertama ini hadir karena zionis Yahudi Laknatullah banyak membantai rakyat Palestina dengan semena-mena menghancurkan rumah-rumah, meneror, menyiksa dan sekarang banyak melakukan pemblokadean terhadap jalur Gaza.
Walaupun dibalik wajah mereka terlihat sedih dan takut dimana setiap hari harus menghadapi kematian dan mendengar suara roket, peluru tajam dan bom serta pembantaian berdarah yang dilakukan Israel tapi tidak sedikit dari mereka yang masih berjuang akan jiwa dan raga demi mempertahankan negeri Al-Quds.
Intifada yang dilakukan rakyat Palestina ini ternyata berhasil menarik perhatian dunia Internasional karena sesungguhnya penjajahan di negeri Palestina masih ada. Mereka sudah cukup menderita sementara negara-negara Arab disekitar Palestina masih banyak yang diam dan takut oleh bangsa Zionis Laknatullah. Demi membebaskan negaranya, mereka membuat terowongan-terowongan untuk menghancurkan setiap blockade atau tembok pembatas yang dibuat Israel sehingga mereka dapat mengambil bahan makanan, bantuan dari beberapa pemukiman di wilayah Palestina. Tembok batas dibangun zionis dengan menempatkan balok-balok cor setinggi 9 meter (lebih tinggi dari tembok Berlin) dengan sarana keamanan, alat penyergapan, tempat pengintai, alat-alat komunikasi, deteksi peringatan, alat perekam, dan alat-alat elektronik lainnya, hal ini benar-benar menjadikan penjara besar bagi rakyat Palestina. Seperti yang kita ketahui tanah mereka semakin lama semakin sedikit dan sebagian terowongan yang dibuat rakyat Palestina dengan susah payah ada juga diketahui dan ditutup oleh Israel. Walaupun banyak terjadi jatuhnya korban para syuhada yang berjihad tapi Allah benar-benar melindungi mereka sampai sekarang ini.
Apapun rencana Israel untuk memperluas kekuasaannya tidak akan menyulutkan persatuan umat Islam untuk menyelamatkan negeri yang suci tersebut. Seperti yang di ungkapkan oleh televisi Israel bahwa Zionis Israel akan membangun pemukiman Yahudi di daerah Jabal Mukabir dengan tujuan untuk menyatukan dua sisi kota Al-Quds timur dan barat sehingga memperluas pemukiman Yahudi atas tanak milik warga Palestina. Hal itu tentu tidak akan dibiarkan begitu saja oleh umat muslimin. Mereka pasti akan berjihad karena ini adalah salah satu solusinya.
Penyerangan Israel terhadap kapal bantuan di kapal MaviMarmara membawa keuntungan bagi rakyat Palestina. Ini adalah salah satu tanda kebangkitan Palestina akan dimulai kembali. Karena kejadian tersebut benar-benar tersorot oleh dunia. Perhatian Internasional mulai terlihat jelas dengan pemberian bantuan kemanusiaan dari segenap relawan dunia kepada rakyat di wilayah Palestina terutama Gaza. Diantaranya adalah perhatian pemerintahan Turki terhadap pembebasan negeri Palestina dan menghadapi arogansi Zionis, belasan warga Jerman beragama Yahudi yang bergabung dalam organisasi “Suara Yahudi untuk Keadilan di Timur Tengah”, komite bantuan kemanusiaan “Urat Nadi Kehidupan” cabang Yordania yang terdiri dari 300 orang peserta dengan misi “Bergandengan Tangan untuk Hentikan Blokade”, kapal kemanusiaan asal Libanon “Naji Al-Ali dan “Mariam”, kapal kemanusiaan dari Iran”. Hal itu juga diperkuat dengan ungkapan George Galloway di Libya bahwa perjalanan enam kapal yang tergabung dalam konvoi Freedom Flotilla telah menjadi bahan pembicaraan hangat di dunia dan berhasil membuat Israel terpojok serta sembilan bulan ke depan, dunia akan menyaksikan pengiriman enam puluh kapal dan ratusan truk pengangkut bantuan kemanusiaan untuk rakyat Gaza2. Subhanallah wa alhamdulillah, ini adalah pertolongan dari Allah dan hasil dari semua umat yang mendo’akan atas pembebasan Palestina dari penjajahan Israel terhadap Palestina. Allahu Akbar…
Duniapun telah mengutuk Israel karena aksi brutalnya di Jalur Gaza yang meluluhlantakan negeri Palestina3. Banyaknya orang bahkan sampai ribuan warga yang berdemonstrasi turun ke jalan di belahan bumi utara, timur, barat dan selatan, diantaranya ratusan orang berdemo di depan Kedubes AS; sekitar 10.000 orang berkumpul di Taksim Square in Istanbul Turki, demonstrasi di luar kedubes Israel di Viena, Australia; para aktivitis berdemo di Roma, Italia; warga Inggris berkumpul di depan Kedubes Israel di London, Inggris; demonstrasi di Caracas Venezuela; demonstrasi di depan Kedubes Israel di Athena; warga demonstran pro Palestina berdemo di Rond Point des Champs Elysees, di Denmark, Belgia, Australia, Spanyol, Libanon, Pakistan, dan bahkan warga AS sendiri yang negaranya pro Israel berdemo membela Palestina. Ini adalah sebagian tanda-tanda isyarat kemenangan bagi Palestina.
Kita patut bersyukur karena masih ada sebagian kaum muslimin yang merelakan diri dan hartanya untuk saudaranya di Palestina. Para relawan Gaza mempunyai pola pemikiran yang kreatif dan berani melakukan perjuangan dengan cerdas dan efektif.
Pasca Perang 2008-2009 atas aksi brutal Israel terhadap Gaza, Palestina telah melahirkan bayi sebanyak 4000 anak dan 12.000 penghafal Al-Qur’an4. Hal ini dapat mengangkat derajat Palestina di dunia Internasional. Kebangkitan Islam juga ditandai dengan adanya hadist Rasulullah:
Abdurrahaman bin Abi Umairah al-Mujni mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda3:
هُنَاكَ فِيْ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سَتَكُوْنُ الْبَيْعَةُ
“Di sana, di Baitul Maqdis, akan terjadi baiat (kepada Imam/Khalifah).” (HR. Ibnu Asakir) Hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Hakim dan beliau mensahihkannya.
Masirah bin Jalis bertutur, berdasarkan penuturkan dari al-Walid bin Muslim, dari Marwan bin Janah, dari Yunus bin Maisarah al-Jabalani, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:
هَذَا اْلأَمْرُ كَائِنٌ بِالْمَدِيْنَةِ ثُمَّ بِالشَّامِ ثُمَّ بِالْجَزِيْرَةِ ثُمَّ بِالْعِرَاقِ ثُمَّ بِالْمَدِيْنَةِ ثُمَّ بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ
“Urusan (Pemerintahan Islam/Khilafah) ini akan berada di Madinah (Yatsrib), lalu di Syam, kemudian di Jazirah (Damaskus), selanjutnya di Irak, lalu di Madinah (Konstantinopel), dan kemudian di Baitul Maqdis (Palestina).” (HR Ibnu Asakir).
Para ulama meyakini bahwa yang dimaksud dengan Madinah (yang kedua) adalah kotanya Heraclius (Konstantinopel). Hadis ini juga membicarakan tentang kota-kota yang akan menjadi ibukota Khilafah dan semuanya telah terjadi, kecuali Baitul Maqdis. Insya Allah, Baitul Maqdis akan menjadi ibukota Khilafah suatu saat nanti. Allahu Akbar…
Masalah Palestina dan Al-Quds adalah masalah kita bersama. Palestina akan menjadi jantung kebangkitan islam dan pusat kekhilafan. Wallahu a’lam. Masalah Palestina bukanlah masalah kecil tapi masalah besar. Karena Zionis Yahudi sudah sangat terkenal dengan kecerdikan dan kejahatan yang super biadab dalam sejarah. Dalam hal ini kewajiban utama dari umat Islam adalah mewujudkan kebangkitan Islam dan mendidik satu generasi yang tangguh dan cerdas.
Allah berfirman dalam Al-Maidah ayat 55 :
“Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, seraya tunduk (kepada Allah)”.
Dalam catatan Dr. Adian Husaini2 mengenai ayat tersebut dijelaskan bahwa : generasi yang dicintai Allah dan mencintai Allah, berkasih sayang terhadap sesama mukmin, dan bersikap tegas terhadap kaum kafir, berjihad di jalan Allah, dan tidak takut terhadap berbagai celaan. Mereka yakin dan kokoh dengan keyakinan dan tujuan perjuangan. Semua itu membutuhkan proses dan waktu yang panjang. Perjuangan Islam membutuhkan kesabaran, kesungguhan, dan kecerdikan. Sebab, tantangan yang dihadapi tidaklah ringan. Godaan untuk cepat-cepat melihat hasil perjuangan, bisa menghancurkan proses perjuangan.
Dalam perjuangan ini dibutuhkan sebuah strategi yang matang dan terarah. Kita harus melakukan rekontruksi fenomena sejarah dan menggali sunnah-sunnah serta pola-pola yang mengarahkan peritiwa-peristiwa sejarah. Oleh sebab itu, kita jangan hanya mengungkapkan berbagai peristiwa secara acak dan komulatif serta terfokus pada ekses-ekses negatif yang bersifat dangkal dalam perjalanan sejarah yangs ebenarnya hanya merupakan episode terakhir dari peristiwa-peristiwa sejarah.
Saat ini diperlukan berbagai tarbiyah yang dapat mendidik kaum Muslimin menjadi lebih baik diantara mengacu pada filosofi sejarah berlandaskan prinsip berikut ini5 :
1. Setiap kumpulan masyarakat terdiri dari tiga elemen utama,
yaitu pemikiran, individu manusia dan materi. Masyarakat berada pada puncak kesehatan dan kekuatan ketika individu manusia dan materi bergerak pada poros pemikiran yang benar.
2. Perilaku manusia bergantung pada niat dan gerak.
Niat akan menjelma ke dalam bentuk pikiran dan kemauan, sementara gerak menjelma dalam perbuatan praktis. Elemen-elemen ini tersusun untuk saling mendorong sehingga menjadi tiga mata rantai yakni, mata rantai pertama adalah pikiran, mata rantai kedua adalah kemauan, dan mata rantai ketiga adalah perbuatan praktis dengan fisik luar manusia dalam seluruh bidang kehidupan manusia.
Untuk menunjukkan perubahan sosial yang fositif, dapat dipahami dalam firman Allah Swt :
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah (keadaan) yang ada pada suatu kaum sehingga mereka merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar Ra’ad : 11).
Sementara perubahan sosial yang negatif, dapat dipahami dari firman Allah Swt :
“Yang demikian itu karena Allah sekali-kali tidak akan merubah nikmat yang telah dianugerahkannya kepada suatu kaum, hingga mereka merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Al-Anfal : 53)
Al-Qur’an menunjukkan bahwa suatu perubahan tidak akan efektif melainkan jika diarahkan oleh pola-pola perubahan itu sendiri.
Pola pertama : Perubahan harus dimulai dari seluruh muatan yang ada pada diri manusia dengan perubahan di bidang sosial, ekonomi, politik, militer, manajemen pemerintahan, hukum dan seluruh bidang kehidupan yang bersifat eksternal. Muatan-muatan diri manusia memiliki pengertian yang sangat luas, meliputi pemikiran, nilai, budaya, kecenderungan, kebiasaan dan tradisi.
Pola kedua : Perubahan menuju keadaan lebih baik atau buruk terjadi jika dilakukan oleh masyarakat (Al Qaum) secara kolektif-bukan oleh individu-individu, ketika mereka mau merubah apa yang ada pada diri mereka.
Pola ketiga : Perubahan akan berhasil jika masyarakat memulai perubahan terhadap apa yang ada pada diri mereka, ketika mereka mampu melakukan perubahan pendidikan dan pemikiran ini dengan baik, maka akan disusul dengan perubahan yang efektif dalam bidang-bidang seperti ekonomi, politik, militer, sosial dan lain-lain.
Era kekuatan dan kejahatan sepanjang sejarah Islam tercipta ketika terjadi kombinasi dua unsur, yaitu: unsur ikhlas dalam niat dan kemauan serta unsur yang tepat dalam pemikiran dan perbuatan. Jika salah satu atau keduanya hilang, atau salah satu di antara keduanya terpisah dari yang lain, maka seluruh usaha keras dan pengorbanan akan menjadi sia-sia belaka. Selain itu, jaringan interaksi sosial (Syabakat al’Alaqat Al Ijtima ‘iyyah) terbentuk atas dasar loyalitas (wala’) kepada pemikiran risalah yang dianut dan dijadikan landasan hidup oleh suatu umat sehingga setiap individu masyarakat akan terlindungi dan terhormat, baik selama masih hidup maunpun setelah mati. Jika terjadi perbedaan pendapat di antara mereka, maka potensi konflik diarahkan ke luar masyarakat tersebut sedangkan usaha mereka tetap bersatu dan membuahkan hasil yang baik. Namun sebaliknya, jika jaringan interaksi sosial terbentuk dalam poros loyal kepada individu, keluarga, mazhab dan kedaerahan; serta bergerak dalam poros individu manusia dan materi, maka nilai manusia menjadi rendah, baik di dalam maupun di luar lingkungan masyarakat. Pertikaian internalpun terjadi dan terus mencabik-cabiknya sehingga setiap kelompok berusaha menghancurkan kelompok lain.
Oleh sebab itu, kita membutuhkan tarbiyah sepanjang hayat sehingga dapat menempa diri kita menjadi lebih baik dan berprestasi. Tarbiyah-tarbiyah yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
1.Tarbiyah Ruhiyah adalah penempaan ruhani agar tetap sehat, sehat, nurani yang senantiasa dalam keadaan beriman dan ketaatan kepada Allah, selalu menata hati atau qalbu agar tetap bersih6. Dilakukan dengan cara : menguatkan aqidah, akhlak dan tingkah laku menjadi baik, mendorong diri menuju kepada Allah, tidak bosan berdzikir, rindu untuk selalu beribadah, khusyu’ dalam shalat, menjaga waktu, selalu intropeksi diri atau bermuhasabah, berdo’a dan menyadari akibat dari berbuat dosa dan pelanggaran.
“Ruhiyah yang baik akan menguatkan aqidah dan cerminan dari akhlak seseorang terlihat pada akal dan tingkah lakunya”
2.Tarbiyah Fikriyah
Adalah sebuah upaya dalam penempaan pola pikir, cara pandang, dan kemampuan berpikir kita agar lebih pintar dan cerdas sehingga melahirkan pribadi yang cerdas, dewasa dan bertakwa dalam menghadapi berbagai hal. Selalu haus akan ilmu. Dalam aspek fikriyah dibutuhkan wawasan Islamiyah dan pola pikir Islam yang baik agar pola kerja pikirannya menjadi landasan dan bermanfaat pada diri sendiri dan orang lain.
3.Tarbiyah Jasadiyah
Adalah penempaan diri secara fisik agar lebih kuat dan sehat sehingga mendapat energi dan bekal kuat yaitu iman kepada Allah.
4.Aspek Amaliyah Harakiyah
Adalah amalan-amalan yang bergerak. Kita terlahir dan tercipta dengan baik, oleh karena itu kita wajib beramal lebih baik lagi di dunia ini.
Allah berfirman dalam surat At-Taubah ayat 105 :
“Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang giab dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan’”
Perjuangan kita masih belum berhenti. Kita dapat belajar dari negara Palestina, walaupun Gaza merupakan salah satu bagian dari wilayah di Palestina yang tandus, miskin dan teraniya tapi semangat juangnya mereka masih tinggi demi membela negaranya. Mereka masih perkasa dan tangguh dengan tanahnya yang semakin sedikit akibat dibajak Zionis Laknatullah. Semoga kita menjadi generasi yang tidak silau dengan dunia, bersifat pemaaf dan lembut, rendah hati (tawadhu), menyayangi orang-orang miskin, dermawan, pemurah, giat beribadah dan bersatu berjuang bersama demi membantu Rakyat Palestina.
Oleh : Evi Andriani
Referensi :
1.http://nabilmufti.wordpress.com/2010/03/16/intifadha-sejarah-perjuangan-palestina/
2.www.hidayatullah.com
3.http://www.voa-islam.com/
4.http://www.infopalestina.com/
5.Asep sobari, Amaluddin, Refleksi 50 Tahun Gerakan Dakwah Para Ulama untuk Membangkitkan Umat dan Merebut Palestina, Bekasi, Kalam Aulia Mediatama, 2007
6.Casofa, Fachmy, Muslim Inspiratif, Surakarta, GazzaMedia, 2009
yang TIDAK diangkat amalnya
SAUDARAKU! Semua kita pasti berharap agar pekerjaan kita dihargai oleh tuan, boss, maupun majikan kita. Itu adalah manusiawi. Sangat normal. Yang tidak baik adalah tidak bekerja, tapi minta dianggap bekerja dan beramal. Ini namanya pendusta.
Begitu juga kiranya kita sebagai “hamba Allah”. Kita belajar, mengajar, shalat, puasa, zakat, haji, dlsb, adalah untuk persiapan dan bekal kita mengadap Allah. Dan kita tidak mau jika semua yang kita kerjakan sia-sia. Benar bukan? Kita ingin belajar kita berbuah ilmu. Kita berharap ilmu kita bermanfaat. Kita berharap shalat kita bisa mencegah kita dari berbuat keji dan munkar. Kita pun ingin puasa kita mengantarkan kita kepada tangga ketakwaan. Zakat yang kita keluarkan diharapkan menjadi “penyuci” jiwa dan pengembang harta. Haji yang kita kerjakan diinginkan agar menjadi “hujjah” (alasan kempurnaan pengabdian) kita di hadapan Allah. Itu sangat manusiawi. Karena jerih-payah kita memang tidak ingin sia-sia.
*****
Tapi jangan lupa saudaraku, bahwa semua amal dan pekerjaan kita harus ada dasarnya. Dasarnya adalah ilmu. Agar amal-amal kita diangkat, naik ke langit, sampai menghadap Allah. Ini lah amal-amal yang maqbul (diterima oleh Allah). Apapun yang kita kerjakan kalau tanpa ilmu, maka akan sia-sia. Untuk itulah, kali ini izinkan aku menyampaikan satu riwayat menarik mengenai ilmu. Ilmu yang harus kita waspadai, sebagai dasar keimanan dan amal saleh, jangan sampai ilmu itu tidak membuahkan apa-apa. Marilah kita amati riwayat berikut:
Abu Sa`id ibn al-Hasan ibn Muhammad ibn Abdillah, seorang penulis di Aspahan, dia mengatakan bahwa al-Qadi Abu Bakr Muhammad ibn `Umar ibn Salam al-Hafizh berkisah bahwa Abdullah ibn Imran al-Najjar berkata kepadanya bahwa Ibrahim ibn Sa`id menceritakan dari al-Hasan ibn Bisyr dari bapaknya, dari Sufyan al-Tsauri, dari Tsuwair ibn Abi Fakhitah, dan Yahya ibn Ja`dah, dari Imam Ali ibn Abi Thalib, beliau berkata:
“Wahai para pembawa panji ilmu! Amalkanlah ilmu kalian. Sungguh, yang disebut dengan orang Alim (yang banyak ilmu) adalah yang mengamalkan ilmunya. Akan datang satu golongan manusia, yaitu orang-orang yang banyak ilmunya, tapi hanya untuk berbangga-bangga dengan kawan-kawannya. Sehingga, ada seorang yang marah kepada temannya karena duduk bersama orang lain. Mereka itu lah yang amal-amalnya tidak naik ke atas langit.”
*****
Jadi, saudaraku! Ilmu itu harus diamalkan. Ilmu buahnya adalah amal. Pepatah Arab mengingatkan kita, “al-`Ilm bilaa `amalin kasyajarin bilaa tsamarin” (ilmu yang tidak diamalkan laksana pohon tanpa buah). Begitulah, kita punya ilmu berarti hanya sebatas memiliki pohon. Dan pohon jika tidak berbuah artinya tidak bermanfaat. Bagaimana mungkin ilmu kita seperti itu. Bagaimana bisa kita berbangga dengan banyaknya ilmu, padahal tak satu pun ilmu yang kita miliki kita amalkan.
Akibatnya sangat luar biasa, saudaraku! Amal-amal kita tidak diangkat ke haribaan Allah, jika ilmu yang kita miliki hanya sekadar bersarang dalam “batok kepala kita”. Hanya sebagai nutrisi kognitif kita. Tidak lebih. Lebih parah lagi, ilmu yang kita miliki menjadikan kita orang-orang yang sombong. Padahal ilmu yang kita miliki jika dibandingkan dengan ilmu orang lain sangat mungkin tidak ada apa-apanya.
Konon lagi jika dibandingkan dengan ilmu Sang Maha Berilmu (al-`Alim). Duh…seperti burung camar di lautan. Sepertinya dia ingin menyedot seluruh air laut, tapi ketika sampai hanya ujung pelatuknya saja yang menyentuh air laut yang luas itu. Air laut tidak bergeming, tidak berkurang, tidak ada yang susut. Begitu mungkin ilmu kita. Karena memang, kata Allah, ilmu kita hanya sedikit, “Dan tidaklah kalian diberi ilmu kecuali sedikit saja.” (Qs. al-Isra` [17]: 85). Buktinya, kata Allah, kita tidak tahu apa hakikat ruh sebenarnya.
*****
Itu makanya, seorang sahabat agung, Abdullah ibn Mas`ud berpesan kepada kita, “Belajarlah, belajarlah. Dan jika kalian usai belajar, maka amalkanlah.” Untuk apa? Agar ilmu kita berbuah amal. Agar ilmu kita tak sia-sia. Agar kita sadar diri. Agar kita tidak sombong. Agar kita saling menghargai dan saling mengisi. Agar kita mau terus belajar. Dan, supaya amal-amal kita diangkat ke langit, diterima oleh Allah. [Q]
Riba dan Bahayanya
Bismillahirrahmaanirrahiim.
Barakallahu fiik,..
ALLAH Aza wa`Jalla berfirman: “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan ALLAH tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam KEKAFIRAN, dan selalu BERBUAT DOSA.” (QS. Al-Baqarah: 276)
Rosulullah Shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: ” RIBA ITU ADA TUJUH PULUH TIGA PINTU, YANG PALING RINGAN [siksanya] SEPERTI SEORANG LAKI-LAKI YANG MENIKAHI [menzinahi] IBUNYA.” (HR. HAKIM)
Riba menurut bahasa artinya tambahan. Sedangkan menurut istilah syar`i, para ulama` memberikan pengertian yg berbeda-beda, antara lain: Imam Ahmad berkata: ” Riba adalah tambahan secara khusus. ” (Riddul Mukhtar: 183).
Mengambil keuntungan dgn cara yang haram sebagaimana ALLAH mensifati orang YAHUDI dalam surat An-Nisa: 161 (Tafsir al-Baqarah: 275), Ibnu Katsir berkata: ” Firman-Nya `dan tinggalkan sisa riba` artinya tinggalkan kelebihan dari uang pokokmu yang ada pada manusia ” (Tafsir Ibnu Katsir: 1/439)
Dari pengertian riba terebut, definisi yang paling tepat ialah apa yang di tuturkan oleh Imam Ahmad, yaitu “TAMBAHAN SECARA KHUSUS”. Sedangkan maksud ” TAMBAHAN SECARA KHUSUS” ialah tambahan yang “DIHARAMKAN” oleh “SYARI`AT ISLAM” baik diperoleh dengan cara PENJUALAN atau PINJAMAN.
Sistem ini nampak berkembang pesat, menjajah di permukaan dunia, mulai dari negara ke negara dan dari kota ke desa. Kerugian dan kehancuran akibat riba ini membuat mereka “GILA” dan “PINGSAN” seperti kesurupan “JIN” (membuat mati hati para PELAKU2nya).
Penyakit ini timbul pada zaman jahiliayah sebelum di utus Nabi Muhammad Shallallahu`alaihi wa sallam, lalu sembuh dengan pengobatan Al-Qur`an dan Sunnah. Dan riba zaman sekarang lebih berbahaya daripada riba pada zaman jahiliyah.
Islam tidak membiarkan manusia dianiaya oleh manusia, oleh karena itu islam menghapus kezhaliman riba pada zaman jahiliyah dengan diturunkannya ayat riba yakni QS. Al-Baqarah: 275-279.
Tentang sebab turunnya ayat ini Ibnu Katsir menuturkan: “Zaid bin Aslam, Ibnu Juraij, Muqatil bin Hayyan dan As-Sudi menjelaskan bahwa ayat ini turun berhubungan dengan peristiwa antara Bani Amr bin Umair (dari keturunan Bani Tsaqif), dan Bani al-Mughirah (dari keturunan Bani Mahzum). Mereka masih punya sangkut paut dengan riba pada zaman jahiliyah. Setelah Islam datang, mereka sama-sama memeluk Islam, lalu Tsaqif ingin mengambil riba yang ada di Bani al-Mughirah. Lalu mereka bermusyawarah, kata Bani al-Mughirah “Kita tidak perlu membayar riba dengan hasil yang kita peroleh setelah masuk Islam, (lalu terjadilah konflik) akhirnya `Itab bin Usaid sebagai wakil pemimpin kota Makkah menulis surat kepada Rosulullah Shallallahu`alaihi wa sallam (untuk menjelaskan perkaranya dan meminta jawabannya) maka turunlah surat al-Baqarah ayat 278-279, selanjutnya Rosulullah Shallallahu`alaihi wa sallam membalas suratnya dengan mengutip ayat ini. Lalu mereka segera bertaubat, kembali ke jalan ALLAH yang benar dan meninggalkan (tidak mengambil sisa-sisa setelah datangnya peringatan ini” (Tafsir Ibnu Katsir: 1/442).
Ayat diatas mengandung beberapa penjelasan, antara lain:
Pertama,.. “SIKSAAN YAN SANGAT BERAT PADA HARI KIAMAT BAGI PEMAKAN RIBA DAN YANG MENGHALALKANNYA”
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata: “Karena mereka di DUNIA mencari HARTA dengan cara yang KEJI seperti orang GILA, mereka akan DISIKSA di alam KUBUR dan pada hari KIAMAT, mereka tidak akan bangkit dari kubur melainkan seperti orang yang kena PUKULAN SETAN, PINGSAN DAN GILA. Demikian itu sebagai siksaan dan balasan karena mereka menyamakan JUAL BELI dengan RIBA.” (Tafsir al-Karimur Rahman: 1/244)
Kedua,.. “RIBA TIDAK MEMBAWA BERKAH, BAHKAN MEMUSNAHKAN PELAKUNYA. MESKI SEBESAR APAPUN HASIL YANG IA PEROLEH”
Ibnu Abbas Rodhiyallahu`anhu berkata: “Makna ‘ ALLAH menghapus riba’ artinya tidak diterima SHADAQOH, HAJI dan SILAHTURAHIM yang dilakukannya” (Tafsir al-Qurthubi “al-Baqarah:275)
Ketiga,.. “KEUTAMAAN BERSHADAQAH. SEKALIPUN SEDIKIT ALLAH AKAN MENAMBAH DAN MEMBESARKANNYA”
Nabi Shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah salah seorang bersedekah dengan sebutir kurma dari hasil yang baik, melainkan ALLAH akan menerimanya dengan tangan kanan-Nya, lalu ALLAH memeliharanya sebagaimana kamu memelihara anak kuda yang kecil sehingga menjadi semisal gunung atau lebih besar.” (HR. Muslim)
Keempat,.. “PERINTAH SEGERA BERHENTI DARI MUAMALAH RIBA”
Ibnu Abbas berkata: “Besok pada hari KIAMAT di panggil orang yang memakan hasil RIBA, ambil senjatamu untuk MEMERANGI kamu.” Lalu dia membacakan ayat no.279, maksudnya jika kamu tidak. Berhenti dari riba, maka yakinlah ALLAH dan Rosul-Nya akan memerang kamu.
Riba hukumnya HARAM menurut al-Qur`an, sunnah dan ijma` ulama`.
Berikut ini dalil-dalilnya, Firman ALLAH: “Padahal ALLAH telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS al-Baqarah: 275) dan Firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada ALLAH dan tinggalkan sisa riba jika kamu orang-orang yang BERIMAN. Maka jika kamu tidak mengerjakan, maka ketahuilah bahwa ALLAH dan Rosul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat, maka bagimu pokok hartamu, kamu tidak menganiaya dan tidak dianiaya.” (QS. al-Baqarah: 278-279).
Jabir bin Abdullah berkata: “Rosulullah Shallallahu`alaihi wa sallam melaknat orang yang makan hasil riba, yang memberinya, sekertaris dan dua saksinya. Beliau berkata: ‘Mereka itu sama’.” (HR. Muslim, Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad)
Fatawa Lajnah Ad-Daimah: 13/268)
Waktu Mustajab terkabulnya Do’a
Waktu-Waktu Mustajab Terkabulnya Do’a
Sungguh berbeda Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan makhluk-Nya. Dia Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Lihatlah manusia, ketika ada orang meminta sesuatu darinya ia merasa kesal dan berat hati. Sedangkan Allah Ta’ala mencintai hamba yang meminta kepada-Nya. Sebagaimana perkataan seorang penyair:
الله يغضب إن تركت سؤاله وبني آدم حين يسأل يغضب
“Allah murka pada orang yang enggan meminta kepada-Nya, sedangkan manusia ketika diminta ia marah”
Ya, Allah mencintai hamba yang berdoa kepada-Nya, bahkan karena cinta-Nya Allah memberi ‘bonus’ berupa ampunan dosa kepada hamba-Nya yang berdoa. Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi:
يا ابن آدم إنك ما دعوتني ورجوتني غفرت لك على ما كان منك ولا أبالي
“Wahai manusia, selagi engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, aku mengampuni dosamu dan tidak aku pedulikan lagi dosamu” (HR. At Tirmidzi, ia berkata: ‘Hadits hasan shahih’)
Sungguh Allah memahami keadaan manusia yang lemah dan senantiasa membutuhkan akan Rahmat-Nya. Manusia tidak pernah lepas dari keinginan, yang baik maupun yang buruk. Bahkan jika seseorang menuliskan segala keinginannya dikertas, entah berapa lembar akan terpakai.
Maka kita tidak perlu heran jika Allah Ta’ala melaknat orang yang enggan berdoa kepada-Nya. Orang yang demikian oleh Allah ‘Azza Wa Jalla disebut sebagai hamba yang sombong dan diancam dengan neraka Jahannam. Allah Ta’ala berfirman:
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Berdoalah kepadaKu, Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Ghafir: 60)
Ayat ini juga menunjukkan bahwa Allah Maha Pemurah terhadap hamba-Nya, karena hamba-Nya diperintahkan berdoa secara langsung kepada Allah tanpa melalui perantara dan dijamin akan dikabulkan. Sungguh Engkau Maha Pemurah Ya Rabb…
Berdoa Di Waktu Yang Tepat
Diantara usaha yang bisa kita upayakan agar doa kita dikabulkan oleh Allah Ta’ala adalah dengan memanfaatkan waktu-waktu tertentu yang dijanjikan oleh Allah bahwa doa ketika waktu-waktu tersebut dikabulkan. Diantara waktu-waktu tersebut adalah:
1. Ketika sahur atau sepertiga malam terakhir
Allah Ta’ala mencintai hamba-Nya yang berdoa disepertiga malam yang terakhir. Allah Ta’ala berfirman tentang ciri-ciri orang yang bertaqwa, salah satunya:
وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُون
“Ketika waktu sahur (akhir-akhir malam), mereka berdoa memohon ampunan” (QS. Adz Dzariyat: 18)
Sepertiga malam yang paling akhir adalah waktu yang penuh berkah, sebab pada saat itu Rabb kita Subhanahu Wa Ta’ala turun ke langit dunia dan mengabulkan setiap doa hamba-Nya yang berdoa ketika itu. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:
ينزل ربنا تبارك وتعالى كل ليلة إلى السماء الدنيا ، حين يبقى ثلث الليل الآخر، يقول : من يدعوني فأستجيب له ، من يسألني فأعطيه ، من يستغفرني فأغفر له
“Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang akhir pada setiap malamnya. Kemudian berfirman: ‘Orang yang berdoa kepada-Ku akan Ku kabulkan, orang yang meminta sesuatu kepada-Ku akan Kuberikan, orang yang meminta ampunan dari-Ku akan Kuampuni‘” (HR. Bukhari no.1145, Muslim no. 758)
Namun perlu dicatat, sifat ‘turun’ dalam hadits ini jangan sampai membuat kita membayangkan Allah Ta’ala turun sebagaimana manusia turun dari suatu tempat ke tempat lain. Karena tentu berbeda. Yang penting kita mengimani bahwa Allah Ta’ala turun ke langit dunia, karena yang berkata demikian adalah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam diberi julukan Ash shadiqul Mashduq (orang jujur yang diotentikasi kebenarannya oleh Allah), tanpa perlu mempertanyakan dan membayangkan bagaimana caranya.
Dari hadits ini jelas bahwa sepertiga malam yang akhir adalah waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak berdoa. Lebih lagi di bulan Ramadhan, bangun di sepertiga malam akhir bukanlah hal yang berat lagi karena bersamaan dengan waktu makan sahur. Oleh karena itu, manfaatkanlah sebaik-baiknya waktu tersebut untuk berdoa.
2. Ketika berbuka puasa
Waktu berbuka puasa pun merupakan waktu yang penuh keberkahan, karena diwaktu ini manusia merasakan salah satu kebahagiaan ibadah puasa, yaitu diperbolehkannya makan dan minum setelah seharian menahannya, sebagaimana hadits:
للصائم فرحتان : فرحة عند فطره و فرحة عند لقاء ربه
“Orang yang berpuasa memiliki 2 kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka puasa dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-Nya kelak” (HR. Muslim, no.1151)
Keberkahan lain di waktu berbuka puasa adalah dikabulkannya doa orang yang telah berpuasa, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:
ثلاث لا ترد دعوتهم الصائم حتى يفطر والإمام العادل و المظلوم
‘”Ada tiga doa yang tidak tertolak. Doanya orang yang berpuasa ketika berbuka, doanya pemimpin yang adil dan doanya orang yang terzhalimi” (HR. Tirmidzi no.2528, Ibnu Majah no.1752, Ibnu Hibban no.2405, dishahihkan Al Albani di Shahih At Tirmidzi)
Oleh karena itu, jangan lewatkan kesempatan baik ini untuk memohon apa saja yang termasuk kebaikan dunia dan kebaikan akhirat. Namun perlu diketahui, terdapat doa yang dianjurkan untuk diucapkan ketika berbuka puasa, yaitu doa berbuka puasa. Sebagaimana hadits
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله
“Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika berbuka puasa membaca doa:
ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله
/Dzahabaz zhamaa-u wabtalatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insyaa Allah/
(‘Rasa haus telah hilang, kerongkongan telah basah, semoga pahala didapatkan. Insya Allah’)” (HR. Abu Daud no.2357, Ad Daruquthni 2/401, dihasankan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah, 2/232)
Adapun doa yang tersebar di masyarakat dengan lafazh berikut:
اللهم لك صمت و بك امنت و على رزقك افطرت برحمتك يا ارحم الراحمين
adalah hadits palsu, atau dengan kata lain, ini bukanlah hadits. Tidak terdapat di kitab hadits manapun. Sehingga kita tidak boleh meyakini doa ini sebagai hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam.
Oleh karena itu, doa dengan lafazh ini dihukumi sama seperti ucapan orang biasa seperti saya dan anda. Sama kedudukannya seperti kita berdoa dengan kata-kata sendiri. Sehingga doa ini tidak boleh dipopulerkan apalagi dipatenkan sebagai doa berbuka puasa.
Memang ada hadits tentang doa berbuka puasa dengan lafazh yang mirip dengan doa tersebut, semisal:
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال : اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت فتقبل مني إنك أنت السميع العليم
“Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika berbuka membaca doa: Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu fataqabbal minni, innaka antas samii’ul ‘aliim”
Dalam Al Futuhat Ar Rabbaniyyah (4/341), dinukil perkataan Ibnu Hajar Al Asqalani: “Hadits ini gharib, dan sanadnya lemah sekali”. Hadits ini juga di-dhaif-kan oleh Al Albani di Dhaif Al Jami’ (4350). Atau doa-doa yang lafazh-nya semisal hadits ini semuanya berkisar antara hadits dhaif atau munkar.
3. Ketika malam lailatul qadar
Malam lailatul qadar adalah malam diturunkannya Al Qur’an. Malam ini lebih utama dari 1000 bulan. Sebagaimana firmanAllah Ta’ala:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Malam Lailatul Qadr lebih baik dari 1000 bulan” (QS. Al Qadr: 3)
Pada malam ini dianjurkan memperbanyak ibadah termasuk memperbanyak doa. Sebagaimana yang diceritakan oleh Ummul Mu’minin Aisyah Radhiallahu’anha:
قلت يا رسول الله أرأيت إن علمت أي ليلة ليلة القدر ما أقول فيها قال قولي اللهم إنك عفو كريم تحب العفو فاعف عني
“Aku bertanya kepada Rasulullah: Wahai Rasulullah, menurutmu apa yang sebaiknya aku ucapkan jika aku menemukan malam Lailatul Qadar? Beliau bersabda: Berdoalah:
اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني
Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni ['Ya Allah, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dan menyukai sifat pemaaf, maka ampunilah aku'']”(HR. Tirmidzi, 3513, Ibnu Majah, 3119, At Tirmidzi berkata: “Hasan Shahih”)
Pada hadits ini Ummul Mu’minin ‘Aisyah Radhiallahu’anha meminta diajarkan ucapan yang sebaiknya diamalkan ketika malam Lailatul Qadar. Namun ternyata Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengajarkan lafadz doa. Ini menunjukkan bahwa pada malam Lailatul Qadar dianjurkan memperbanyak doa, terutama dengan lafadz yang diajarkan tersebut.
4. Ketika adzan berkumandang
Selain dianjurkan untuk menjawab adzan dengan lafazh yang sama, saat adzan dikumandangkan pun termasuk waktu yang mustajab untuk berdoa. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
ثنتان لا تردان أو قلما تردان الدعاء عند النداء وعند البأس حين يلحم بعضهم بعضا
“Doa tidak tertolak pada dua waktu, atau minimal kecil kemungkinan tertolaknya. Yaitu ketika adzan berkumandang dan saat perang berkecamuk, ketika kedua kubu saling menyerang” (HR. Abu Daud, 2540, Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Nata-ijul Afkar, 1/369, berkata: “Hasan Shahih”)
5. Di antara adzan dan iqamah
Waktu jeda antara adzan dan iqamah adalah juga merupakan waktu yang dianjurkan untuk berdoa, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:
الدعاء لا يرد بين الأذان والإقامة
“Doa di antara adzan dan iqamah tidak tertolak” (HR. Tirmidzi, 212, ia berkata: “Hasan Shahih”)
Dengan demikian jelaslah bahwa amalan yang dianjurkan antara adzan dan iqamah adalah berdoa, bukan shalawatan, atau membaca murattal dengan suara keras, misalnya dengan menggunakan mikrofon. Selain tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, amalan-amalan tersebut dapat mengganggu orang yang berdzikir atau sedang shalat sunnah. Padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,
لا إن كلكم مناج ربه فلا يؤذين بعضكم بعضا ولا يرفع بعضكم على بعض في القراءة أو قال في الصلاة
“Ketahuilah, kalian semua sedang bermunajat kepada Allah, maka janganlah saling mengganggu satu sama lain. Janganlah kalian mengeraskan suara dalam membaca Al Qur’an,’ atau beliau berkata, ‘Dalam shalat’,” (HR. Abu Daud no.1332, Ahmad, 430, dishahihkan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani di Nata-ijul Afkar, 2/16).
Selain itu, orang yang shalawatan atau membaca Al Qur’an dengan suara keras di waktu jeda ini, telah meninggalkan amalan yang di anjurkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, yaitu berdoa. Padahal ini adalah kesempatan yang bagus untuk memohon kepada Allah segala sesuatu yang ia inginkan. Sungguh merugi jika ia melewatkannya.
6. Ketika sedang sujud dalam shalat
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد . فأكثروا الدعا
“Seorang hamba berada paling dekat dengan Rabb-nya ialah ketika ia sedang bersujud. Maka perbanyaklah berdoa ketika itu” (HR. Muslim, no.482)
7. Ketika sebelum salam pada shalat wajib
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
قيل يا رسول الله صلى الله عليه وسلم أي الدعاء أسمع قال جوف الليل الآخر ودبر الصلوات المكتوبات
“Ada yang bertanya: Wahai Rasulullah, kapan doa kita didengar oleh Allah? Beliau bersabda: “Diakhir malam dan diakhir shalat wajib” (HR. Tirmidzi, 3499)
Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam Zaadul Ma’ad (1/305) menjelaskan bahwa yang dimaksud ‘akhir shalat wajib’ adalah sebelum salam. Dan tidak terdapat riwayat bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabat merutinkan berdoa meminta sesuatu setelah salam pada shalat wajib. Ahli fiqih masa kini, Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah berkata: “Apakah berdoa setelah shalat itu disyariatkan atau tidak? Jawabannya: tidak disyariatkan. Karena Allah Ta’ala berfirman:
فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ
“Jika engkau selesai shalat, berdzikirlah” (QS. An Nisa: 103). Allah berfirman ‘berdzikirlah’, bukan ‘berdoalah’. Maka setelah shalat bukanlah waktu untuk berdoa, melainkan sebelum salam” (Fatawa Ibnu Utsaimin, 15/216).
Namun sungguh disayangkan kebanyakan kaum muslimin merutinkan berdoa meminta sesuatu setelah salam pada shalat wajib yang sebenarnya tidak disyariatkan, kemudian justru meninggalkan waktu-waktu mustajab yang disyariatkan yaitu diantara adzan dan iqamah, ketika adzan, ketika sujud dan sebelum salam.
8. Di hari Jum’at
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ذكر يوم الجمعة ، فقال : فيه ساعة ، لا يوافقها عبد مسلم ، وهو قائم يصلي ، يسأل الله تعالى شيئا ، إلا أعطاه إياه . وأشار بيده يقللها
“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menyebutkan tentang hari Jumat kemudian beliau bersabda: ‘Di dalamnya terdapat waktu. Jika seorang muslim berdoa ketika itu, pasti diberikan apa yang ia minta’. Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya tentang sebentarnya waktu tersebut” (HR. Bukhari 935, Muslim 852 dari sahabat Abu Hurairah Radhiallahu’anhu)
Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Baari ketika menjelaskan hadits ini beliau menyebutkan 42 pendapat ulama tentang waktu yang dimaksud. Namun secara umum terdapat 4 pendapat yang kuat.
Pendapat pertama, yaitu waktu sejak imam naik mimbar sampai selesai shalat Jum’at, berdasarkan hadits:
هي ما بين أن يجلس الإمام إلى أن تقضى الصلاة
“Waktu tersebut adalah ketika imam naik mimbar sampai shalat Jum’at selesai” (HR. Muslim, 853 dari sahabat Abu Musa Al Asy’ari Radhiallahu’anhu).
Pendapat ini dipilih oleh Imam Muslim, An Nawawi, Al Qurthubi, Ibnul Arabi dan Al Baihaqi.
Pendapat kedua, yaitu setelah ashar sampai terbenamnya matahari. Berdasarkan hadits:
يوم الجمعة ثنتا عشرة يريد ساعة لا يوجد مسلم يسأل الله عز وجل شيئا إلا أتاه الله عز وجل فالتمسوها آخر ساعة بعد العصر
“Dalam 12 jam hari Jum’at ada satu waktu, jika seorang muslim meminta sesuatu kepada Allah Azza Wa Jalla pasti akan dikabulkan. Carilah waktu itu di waktu setelah ashar” (HR. Abu Daud, no.1048 dari sahabat Jabir bin Abdillah Radhiallahu’anhu. Dishahihkan Al Albani di Shahih Abi Daud). Pendapat ini dipilih oleh At Tirmidzi, dan Ibnu Qayyim Al Jauziyyah. Pendapat ini yang lebih masyhur dikalangan para ulama.
Pendapat ketiga, yaitu setelah ashar, namun diakhir-akhir hari Jum’at. Pendapat ini didasari oleh riwayat dari Abi Salamah. Ishaq bin Rahawaih, At Thurthusi, Ibnul Zamlakani menguatkan pendapat ini.
Pendapat keempat, yang juga dikuatkan oleh Ibnu Hajar sendiri, yaitu menggabungkan semua pendapat yang ada. Ibnu ‘Abdil Barr berkata: “Dianjurkan untuk bersungguh-sungguh dalam berdoa pada dua waktu yang disebutkan”. Dengan demikian seseorang akan lebih memperbanyak doanya di hari Jum’at tidak pada beberapa waktu tertentu saja. Pendapat ini dipilih oleh Imam Ahmad bin Hambal, Ibnu ‘Abdil Barr.
9. Ketika turun hujan
Hujan adalah nikmat Allah Ta’ala. Oleh karena itu tidak boleh mencelanya. Sebagian orang merasa jengkel dengan turunnya hujan, padahal yang menurunkan hujan tidak lain adalah Allah Ta’ala. Oleh karena itu, daripada tenggelam dalam rasa jengkel lebih baik memanfaatkan waktu hujan untuk berdoa memohon apa yang diinginkan kepada Allah Ta’ala:
ثنتان ما تردان : الدعاء عند النداء ، و تحت المطر
“Doa tidak tertolak pada 2 waktu, yaitu ketika adzan berkumandang dan ketika hujan turun” (HR Al Hakim, 2534, dishahihkan Al Albani di Shahih Al Jami’, 3078)
10. Hari Rabu antara Dzuhur dan Ashar
Sunnah ini belum diketahui oleh kebanyakan kaum muslimin, yaitu dikabulkannya doa diantara shalat Zhuhur dan Ashar dihari Rabu. Ini diceritakan oleh Jabir bin Abdillah Radhiallahu’anhu:
أن النبي صلى الله عليه وسلم دعا في مسجد الفتح ثلاثا يوم الاثنين، ويوم الثلاثاء، ويوم الأربعاء، فاستُجيب له يوم الأربعاء بين الصلاتين فعُرِفَ البِشْرُ في وجهه
قال جابر: فلم ينزل بي أمر مهمٌّ غليظ إِلاّ توخَّيْتُ تلك الساعة فأدعو فيها فأعرف الإجابة
“Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam berdoa di Masjid Al Fath 3 kali, yaitu hari Senin, Selasa dan Rabu. Pada hari Rabu lah doanya dikabulkan, yaitu diantara dua shalat. Ini diketahui dari kegembiraan di wajah beliau. Berkata Jabir : ‘Tidaklah suatu perkara penting yang berat pada saya kecuali saya memilih waktu ini untuk berdoa,dan saya mendapati dikabulkannya doa saya‘”
Dalam riwayat lain:
فاستجيب له يوم الأربعاء بين الصلاتين الظهر والعصر
“Pada hari Rabu lah doanya dikabulkan, yaitu di antara shalat Zhuhur dan Ashar” (HR. Ahmad, no. 14603, Al Haitsami dalam Majma Az Zawaid, 4/15, berkata: “Semua perawinya tsiqah”, juga dishahihkan Al Albani di Shahih At Targhib, 1185)
11. Ketika Hari Arafah
Hari Arafah adalah hari ketika para jama’ah haji melakukan wukuf di Arafah, yaitu tanggal 9 Dzulhijjah. Pada hari tersebut dianjurkan memperbanyak doa, baik bagi jama’ah haji maupun bagi seluruh kaum muslimin yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Sebab Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
خير الدعاء دعاء يوم عرفة
“Doa yang terbaik adalah doa ketika hari Arafah” (HR. At Tirmidzi, 3585. Di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi)
12. Ketika Perang Berkecamuk
Salah satu keutamaan pergi ke medan perang dalam rangka berjihad di jalan Allah adalah doa dari orang yang berperang di jalan Allah ketika perang sedang berkecamuk, diijabah oleh Allah Ta’ala. Dalilnya adalah hadits yang sudah disebutkan di atas:
ثنتان لا تردان أو قلما تردان الدعاء عند النداء وعند البأس حين يلحم بعضهم بعضا
“Doa tidak tertolak pada dua waktu, atau minimal kecil kemungkinan tertolaknya. Yaitu ketika adzan berkumandang dan saat perang berkecamuk, ketika kedua kubu saling menyerang” (HR. Abu Daud, 2540, Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Nata-ijul Afkar, 1/369, berkata: “Hasan Shahih”)
13. Ketika Meminum Air Zam-zam
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
ماء زمزم لما شرب له
“Khasiat Air Zam-zam itu sesuai niat peminumnya” (HR. Ibnu Majah, 2/1018. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah, 2502)
14. Ketika Saat Ajal Tiba
Dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah mendatangi rumah Abu Salamah (pada hari wafatnya), dan beliau mendapatkan kedua mata Abu Salamah terbuka lalu beliau memejamkannya kemudian bersabda.
“Artinya : Sesungguhnya tatkala ruh dicabut, maka pandangan mata akan
mengikutinya’ . Semua keluarga histeris. Beliau bersabda : ‘Janganlah kalian berdoa untuk diri kalian kecuali kebaikan, sebab para malaikat mengamini apa yang kamu ucapkan”. [Shahih Muslim, kitab Janaiz 3/38]
Demikian uraian mengenai waktu-waktu yang paling dianjurkan untuk berdoa. Mudah-mudahan Allah Ta’ala mengabulkan doa-doa kita dan menerima amal ibadah kita.
Amiin Ya Mujiibas Sa’iliin.
Sumber :
Waktu-Waktu Mustajab Terkabulnya Do’a
Waktu DOA Mustajab
AQIDAH
Aqidah atau keyakinan merupakan landasan pokok bagi orang yang beragama. Dengan keyakinan yang kuat orang akan bisa mematuhi perintah dan meninggalkan larangan Allah SWT.
Pada bab ini akan diuraikan pengertian aqidah, konsep ketuhanan dalam Islam, pembuktian wujud Allah, proses terbentuk dan bertambahnya iman dan pemurnian aqidah.
1. Pengertian
Aqidah berasal dari kata “ aqada-ya’qidu- aqdan” yang berarti mengikatkan atau mempercayai/ meyakini. Jadi aqidah berarti ikatan, kepercayaan atau keyakinan. Aqidah merupakan keyakinan keagamaan yang dianut seseorang dan menjadi landasan segala bentuk aktivitas, sikap, pandangan, dan pegangan hidupnya. Aqidah disebut juga dengan iman.
Pengertian aqidah atau iman secara luas ialah keyakinan penuh yang dibenarkan oleh hati, diucapkan oleh lidah dan diwujudkan (diamalkan) dalam perbuatan.
2. Pembuktian Wujud Allah
Manusia sebagai makhluk yang dikaruniai akal sebenarnya mampu menghayati wujud Allah , yaitu melalui ciptaan-ciptaan-Nya, pengalamanpengalaman bathin atau fitrahnya, namun umumnya belum merasa puas dan menginginkan pembuktian yang secara langsung. Walaupun untuk kepentingan umatnya namun Nabi Musa sendiri sebagai utusan Allah pernah juga memohon agar Tuhan menampakkan diri. Keinginan semacam itu tentu saja tidak dimungkinkan kecuali dalam pembuktian yang tetap masih bersifat relatif (nisbi) dan terbatas sekali. Oleh karenanya cara pembuktian lain yang paling akurat ialah melalui Al Qur’an dan Sunnah Nabi, tentu saja hal ini terutama ditujukan kepada orang-orang yang beriman, sebab tanpa adanya keimanan hal ini juga kurang bermanfaat. Adanya Iman pada seseorang dalam rangka menghayati wujud Allah adalah merupakan modal utama dan paling menentukan. Cara lain agar manusia mampu menghayati wujud Allah adalah melalui penghayatan dan pemahaman tentang manfaat alam untuk
kepentingan manusia. Kemudian dengan memperhatikan kondisi lingkungan alamiah planet bumi, langit serta keserasian dan keharmonisan aneka ragam alam.
3. Fungsi dan Peranan Aqidah
Aqidah tauhid sebagai kebenaran merupakan landasan keyakinan bagi seorang muslim akan memiliki fungsi dan peranan yang sangat besar dalam hidupnya antara lain:
a. Menopang seluruh prilaku, membentuk dan memberi corak dan warna kehidupannya dalam hubungannya dengan makhluk lain dan hubungannya dengan Tuhan.
b. Aqidah/ keyakinan akan memberikan ketenangan dan ketentraman dalam pengabdian dan penyerahan dirinya secara utuh kepada Zat yang Maha Besar.
c. Iman memberikan daya dorong utama untuk bergaul dan berbuat baik sesama manusia tanpa pamrih.
d. Dengan iman seorang muslim akan senantiasa menghadirkan dirinya dalam pengawasan Allah semata.
e. Aqidah sebagai filter, penyaring budaya-budaya non Islami (sekuler).
4. Proses Terbentuk dan Bertambahnya Iman.
Proses terbentuk dan bertambahnya iman akan mempengaruhi tingkat iman seseorang. Iman yang ada dalam hati seseorang adakalanya bertambah dan berkurang sesuai dengan kondisi dan situasi yang dialami seseorang dalam hidupnya. Iman yang dimiliki seseorang tidak selalu sama dengan yang
dimiliki orang lain, ia akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan faktorfaktor yang mempengaruhinya.
Faktor-faktor pembinaan iman itu antara lain :
a. Faktor kesediaan membaca dan mendengarkan ayat-ayat Al Qur’an (Q.S Al
Anfal (8) ayat 2.
b. Faktor amal shaleh ( Q.S An Nur (24) ayat 55.
c. Faktor kesungguhan (Q.S Al Ankabut (29) ayat 69.
d. Faktor penyerahan diri dengan mutlak dan menyeluruh (Q.S Al Baqarah (2) ayat 112.
e. Faktor keridhaan Allah (Q.S Al Maidah (5) ayat 16.
f. Faktor memakmurkan mesjid (Q.S. At Taubah (9) ayat 18.
g. Faktor zikir dan fikir (Q.S Ali Imran (190-191).
h. Faktor ilmu (Q.S Al Isra’ (17) ayat 36.
B. Pemurnian Aqidah.
Agama Islam mengajarkan bahwa iman kepada Allah harus sebersih dan semurni mungkin, serta menutup celah-celah yang dikhawatirkan masuknya syirik, kemudian mengancam bahwa syirik itu dosa besar dan tidak dapat diampuni di sisi-Nya. Sebagaimana yang dikatakan Allah dalam Al Qur’an surat An Nisa’ (4) ayat 48.
Artinya : “ Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari syirik itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguhia telah berbuat dosa yang besar.”
Macam-macam syirik antara lain :
1. Syirik jalli ( terang-terangan), yakni menyembah selain Allah secara terang terangan, seperti menyembah patung.
2. Syirik khafi ( tersembunyi), yakni selain percaya kepada Allah juga percaya kepada kekuatan selain Allah, seperti mengundi nasib, mempercayai tempat-tempat sakti, benda keramat, berobat ke dukun (dukun yang menyembuhkan ).
3. Syirik Asghar ( kecil), yakni berbuat sesuatu bukan karena Allah tetapi ingin mendapat pujian dari manusia, seperti perbuatan riya.
4. Bid’ah, artinya menambah-nambah dalam beribadah yang tidak diperbuat oleh Nabi SAW, seperti me 3, 7, 14, 21, 40, 100 hari kematian, membakar
kemenyan dalam berdo’a.
III. Penutup
A. Kesimpulan
Aqidah merupakan landasan berfikir dan berprilaku bagi seorang muslim. Baik atau buruknya prilaku tergantung kepada iman yang dimilikinya. Kemudian iman yang ada dalam diri seseorang akan mengalami pasang naik dan pasang surut sesuai dengan kondisi dan situasi yang dialami oleh seseorang. Oleh karena itu, agar iman tidak mengalami kemerosotan maka perlu dipelihara dari kemusyrikan seperti syirik keci, syirik besar , baik syirik secara terang-terangan maupun syirik secara terselubung.
wallohu a’lam
sumber www.bung-hatta
Keajaiban madu dalam Al Quran
Segala sesuatu yang diciptakan Allah SWT pasti tak ada yang sia-sia. Di antara ciptaan Sang Khalik yang istimewa adalah lebah. Serangga yang satu ini menempati posisi penting dibanding serangga lainnya. Tak heran jika lebah dijadikan salah satu nama surat dalam Alquran.
Surat ke-16 dalam Alquran adalah An Nahl yang berarti lebah. Secara khusus, surat Makkiyah tersebut dinamakan An Nahl atau lebah, karena pada ayat ke-68 terdafat firman Allah SWT yang berbunyi, ”Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia.”
Lebah memang spesial. Ia merupakan makhluk Allah SWT yang banyak memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia. Dalam penjelasan surat An Nahl yang tercantum dalam Alquran dan Terjemahannya disebutkan bahwa ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Alquranul Karim.
Apa persamaannya? Simak ayat berikut: ”… Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS An Nahl:69).
Madu berasal dari sari bunga dan menjadi obat bagi bermacam-macam penyakit manusia. Sedangkan Alquran mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Kemukjizatan madu sebagaimana disampaikan Alquran telah terbukti secara ilmiah. Dalam Tafsir Alquran, Sayyid Quthb mengungkapkan, madu sebagai obat penyembuh penyakit sudah dibuktikan secara ilmiah oleh para pakar kedokteran. Inilah salah satu bukti kebenaran ayat Alquran yang harus diyakni umat manusia.
Sedangkan dalam Tafsir Alquran Ibnu Katsir diterangkan bahwa madu lebah itu warnanya bermacam-macam sesuai dengan makanannya. Ada yang berwarna putih, kuning, maupun merah. Selain itu, menurut Ibnu Katsir, madu cocok bagi setiap orang, misalnya untuk mengobati dingin, karena madu itu panas.
Di dunia Islam, penggunaan madu sebagi obat sudah diterapkan sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Pada saat itu, madu digunakan untuk mengobati penyakit diare. Lem lebah yang berasal dari madu juga sangat berkhasiat untuk mengobati berbagai macam penyakit.
Kajian khasiat madu secara ilmiah juga telah diteliti oleh ilmuwan Muslim terkemuka di era keemasan Islam, yakni Ibnu Sina (890-1037). Bapak kedokteran dunia dan pemikir Muslim agung di abad ke-10 M itu tercatata sebagai dokter yang mengulas mengenai khasiat madu dari segi kesehatan dan dunia kedokteran.
Selama hidupnya Ibnu Sina banyak mengkonsumsi madu sehingga awet muda dan berumur panjang. Madu, menurut Ibnu Sina, dapat menyembuhkan berbagai penyakit dari yang ringan sampai yang berat, seperti tekanan darah tinggi dan jantung. Madu juga dapat menurunkan suhu badan serta mengatur sekresi, sehingga dapat menghilangkan penyakit demam.
Ibnu Sina juga telah meneliti khasiat madu untuk perawatan kecantikan tubuh. Menurut Ibnu Sina, madu dan minyak zaitun mampu menjadi obat mujarab yang digunakan sebagai kosmetika yang memiliki beragam khasiat.
Madu dan minyak zaitun, papar Ibnu Sina, bisa mengencangkan kulit muka dan seluruh kulit badan. Kedua bahan alami yang mendapat perhatian khusus dalam Alquran itu mampu menghilangkan flek-flek hitam dan jamur kulit. Selain itu, madu dan minyak zaitun juga bisa menghaluskan kulit dan mengurangi reutan pada wajah.
Yang tak kalah menariknya, Ibnu Sina pun telah menemukan fakta bahwa minyak zaitun dan madu mampu menghilangkan bau badan yang tak sedap, serta bisa memberikan vitamin pada kulit dan melembabkannya. Selain untuk kosmetik, madu juga bisa digunakan untuk bearagam kegunaan lainnya. Mulai dari makanan, obat-obatan sampai bahan untuk alat-alat kecantikan.
Sejatinya, manfaat madu telah dirasakan peradaban manusia sejak dahulu kala. Orang Mesir Kuno telah mengonsumsinya. Penduduk Mesir Kuno sudah terbiasa memanfaatkan madu sebagai makanan bergizi tinggi serta obat berbagai macam penyakit yang mujarab. Meski begitu, peradaban kuno belum mampu menjelaskannya secara ilmiah.
Adalah Ibnu Sina seorang dokter legendaris sepanjang masa – yang telah berhasil membuktikan kebenaran khasiat madu tersebut, dalam usia tua. Konon, Ibnu Sina masih tetap kelihatan sehat dan segar bugar layaknya seorang pemuda, karena terbiasa mengonsumsi madu.
Hasil penelitian terakhir yang dikeluarkan dari Universitas Moskow, menyatakan madu ternyata juga mengandung logam alumunium, boron, krom, tembaga, timbal, titanium, seng, asam organik, asetilkolin, hormon, antibiotik, zat antiracun serta zat antikanker.
Zat-zat ini sangat penting untuk memperlancar proses biokimia tubuh dan proses penyembuhan aneka penyakit. Sementara kandungan enzim dalam madu dilaporkan paling tinggi jika dibandingkan dengan mahanan lainnya.
Penelitian ini juga menyebutkan madu diyakini dapat menyembuhkan tukak lambung (maag), radang usus, serta kesulitan buang air besar (sembelit). Jadi sangat baik memang untuk mengkonsumsi madu dalam keseharian kita.
Dalam Alquran, madu pun menjadi simbol kenikmatan surga balasan bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa. ”(Apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya?” (QS:MUHAMMAD: 15).
Mendidik Islami Ala Luqman Al-Hakim
“Dan (Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi nasehat kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar ….. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai”. (Luqman: 13-19)
Surat Luqman secara umum, terutama ayat 13-19 difahami sebagai surat yang harus dibaca saat prosesi aqiqah atau kesyukuran atas kelahiran seorang anak, dengan harapan bahwa sang ayah nantinya dapat meneladani tokoh Luqman yang diabadikan wasiatnya dan sang anak juga dapat mengikuti petuah dan nasehat seperti halnya anak Luqman. Tentu pemahaman ini dapat diterima, mengingat secara tekstual ayat-ayat ini memang berbicara secara khusus tentang pesan Luqman dalam konteks mendidik anak sesuai dengan pesan Al-Qur’an. Apalagi pesan Luqman dalam surat ini sebenarnya adalah pesan Allah yang dibahasakan melalui lisan Luqman Al-Hakim sehingga sifatnya mutlak dan mengikat; pesan Luqman dalam bentuk perintah berarti perintah Allah, demikian juga nasehatnya dalam bentuk larangan pada masa yang sama adalah juga larangan Allah yang harus dihindari.
Luqman yang dimaksud dalam ayat-ayat ini menurut Ibnu Katsir adalah Luqman bin Anqa’ bin Sadun. Ia adalah anak dari seorang bapak yang Tsaaran. Pengabadian kisah Luqman memang berbeda dengan pengabdian tokoh lain yang lebih komprehensif. Pengabadian Luqman hanya berkisar seputar nasehat dan petuahnya yang sangat layak dijadikan acuan dalam mendidik anak secara Islami.
Tentu masih banyak lagi cara Islami dalam mendidik anak berdasarkan ayat-ayat atau hadits Rasulullah saw yang lain. Namun paling tidak, pesan Luqman ini bukan sekedar pesan biasa umumnya seorang bapak kepada anaknya, namun merupakan pesan yang penuh dengan sentuhan kasih sayang dan sarat dengan muatan ideologis serta tersusun berdasarkan skala prioritas dari pesan agar mengesakan Allah dan tidak menmpersekutukannya sampai pada pesan untuk bersikap tawadu’ dan santun yang tercermin dalam cara berjalan dan berbicara. Kedua jenis pesan dan nasehat tersebut ternyata tidak keluar dari dua prinsip utama dalam ajaran Islam yaitu ajaran tentang akidah dan akhlak.
Menurut Sayid Quthb, rangkaian ayat-ayat berbicara tentang Luqman dan nasihatnya yang diawali dengan anugerah hikmah kepada Luqman di ayat 12 merupakan pembahasan kedua dari pembahasan surat Luqman yang masih sangat terkait dengan pembahasan episode pertama, yaitu persoalan akidah. Pesan Luqman sendiri pada intinya adalah pesan akidah yang memiliki beberapa konsekuensi; di antaranya berbakti dan berbuat ma’ruf kepada kedua orang tua sebagai bukti rasa syukur atas kasih sayang dan pengorbanan mereka merupakan tuntutan atas akidah yang benar kepada Allah swt. Senantiasa merasakan kehadiran dan pengawasan Allah dalam setiap langkah dan perbuatan merupakan aktualisasi dari keyakinan akan sifat Allah Yang Mengetahui, Maha Mendengar dan Maha Mengawasi. Serta menjalankan aktifitas amar ma’ruf dan nahi munkar yang disertai dengan sikap sabar dalam menghadapi segala rintangan dan tantangan merupakan bukti akan keluatan iman yang bersemayam di dalam hati sanubari, hingga pada pesan untuk senantiasa bersikap tawadu’ dan tidak sombong, baik dalam bersikap maupun dalam berbicara. Semuanya tidak lepas dari ikatan dan tuntutan akidah yang benar.
Dominasi pembahasan seputar akidah dalam surat ini memang wajar karena surat Luqman termasuk surat Makkiyyah yang notabene memberi fokus pada penanaman dan penguatan akidah secara prioritas..
Terlepas dari pro kontra siapa Luqman sesungguhnya; apakah ia seorang nabi ataukah ia hanya seorang lelaki shalih yang diberi ilmu dan hikmah, yang jelas jumhur ulama lebih cenderung memilih pendapat yang mengatakan bahwa ia hanya seorang hamba yang shalih dan ahli hikmah, bukan seorang nabi seperti yang diperkatakan oleh sebagian ulama. Gelar Al-Hakim di akhir nama Luqman tentu gelar yang tepat untuknya sesuai dengan ucapannya, perbuatan dan sikapnya yang memang menunjukkan sikap yang bijaksana. Allah sendiri telah menganugerahinya hikmah seperti yang ditegaskan dalam ayat sebelumnya:
“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji“. (Luqman: 12)
Yang menarik disini bahwa ternyata sosok Luqman bukanlah seorang yang terpandang atau memiliki pengaruh. Ia hanya seorang hamba Habasyah yang berkulit hitam dan tidak punya kedudukan sosial yang tinggi di masyarakat. Namun hikmah yang diterimanya menjadikan ucapannya dalam bentuk pesan dan nasehat layak untuk diikuti oleh seluruh orang tua tanpa terkecuali. Hal ini terungkap dalam riwayat Ibnu Jarir bahwa seseorang yang berkulit hitam pernah mengadu kepada Sa’id bin Musayyib. Maka Sa’id menenangkannya dengan mengatakan: “Janganlah engkau bersedih (berkecil hati) karena warna kulitmu hitam. Sesungguhnya terdapat tiga orang pilihan yang kesemuanya berkulit hitam, yaitu Bilal, Mahja’ maula Umar bin Khattab dan Luqman Al-Hakim”.
Rangkaian pesan dan nasehat Luqman yang tersebut dalam 7 ayat di atas secara redaksional dapat dibagi menjadi dua bentuk, yaitu bentuk larangan yang berjumlah 3 ayat dan redaksi perintah yang berjumlah 3 ayat. Sedangkan yang mengapit antara keduanya adalah pesan untuk senantiasa muraqabtuLlah karena Allah Maha Mengetahui apa yang dilakukan oleh setiap hambaNya tanpa terkecuali meskipun hanya sebesar biji zarrah dan dilakukan di tempat yang sangat mustahil diketahui oleh siapapun melainkan oleh Allah swt. Tiga larangan yang dimaksud adalah larangan mempersekutukan Allah, larangan menta’ati perintah kedua orang tua dalam konteks kemaksiatan, serta larangan bersikap sombong. Sedangkan nasehat dalam bentuk perintah diawali dengan perintah berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua dalam keadaan apapun mereka yang diringi dengan mensyukuri Allah atas segala anugerah dan limpahan rahmatNya dalam beragam bentuk, perintah untuk mendirikan shalat, memerintah yang ma’ruf dan mencegah yang munkar serta perintah bersikap sederhana dalam berjalan dan bersuara (berbicara).
Dalam menjelaskan secara aplikatif tafsir ayat 15 dari surat Luqman ini, Ibnul Atsir dalam kitab Usudul Ghabah ( 2: 216) menukil riwayat Thabrani yang mengetengahkan kisah seorang anak yang bernama Sa’ad bin Malik yang tetap berbakti menghadapi ibundanya yang menentang keras keislamannya dengan melakukan aksi mogok makan beberapa hari lamanya sehingga terlihat kepenatan menimpa ibundanya. Namun dengan tegas dan tetap menunjukkan baktinya Sa’ad berkata dengan bijak kepada ibundanya: “Wahai ibu, sekiranya engkau memiliki seratus nyawa. Lalu satu persatu nyawa itu keluar dari jasadmu agar aku meninggalkan agama (Islam) ini maka aku tidak akan pernah menuruti keinginanmu. Jika engkau sudi silahkan makan makanan yang telah aku sediakan. Namun jika engkau tidak berkenan, maka tidak masalah.”
Akhirnya ibu Sa’ad pun memakan makanan yang dihidangkannya, karena merasa bahwa upaya yang cukup ekstrim itu tidak akan meluluhkan keteguhan hati anaknya dalam agama Islam. Tentu sikap yang bijak yang ditunjukkan oleh seorang anak terhadap sikap memaksa kedua orang tuanya yang digambarkan dalam ayat ke 15 tidak akan hadir secara instan tanpa didahului oleh pemahaman yang benar akan akidah Islam, terutama akidah kepada Allah.
Kisah di atas jelas merupakan sebuah kisah yang sangat menarik dan berat untuk difahami dalam konteks kekinian. Bagaimana secara sinergis seorang anak tetap mampu menghadirkan sikap bakti kepada orang tua dengan tetap mempertahankan ideologi dan keyakinan yang dianutnya yang berbeda dengan keyakinan kedua orang tuanya. Pada ghalibnya seorang anak akan merasakan kesukaran dan keberatan untuk menimbang antara ketaatan kepada perintah orang tua dan bersikap ihsan serta berbakti kepada keduanya. Menurut Ibnu Katsir berbakti kepada kedua orang tua adalah dalam konteks bersilaturahim, mendoakan dan memberikan bantuan yang semestinya yang harus dibedakan dengan ketaatan yang berujung kepada bermaksiat kepada Allah. Tentang hal ini, Sufyan bin Uyainah pernah berkata :
“Barangsiapa yang menegakkan shalat lima waktu berarti ia telah mensyukuri Allah dan barangsiapa yang senantiasa berdoa untuk kedua orang tuanya setiap selesai shalat, maka berarti ia telah mensyukuri kedua orang tuanya.”
Sungguh sebuah sikap yang matang dan bijak yang tentu berawal dari model pendidikan yang bernuansa ‘akidi dan akhlaqi’ dengan tetap memperhatikan kebutuhan dan tuntutan kekinian yang seimbang dengan landasan prinsip dalam berIslam secara baik dan benar. Anak-anak sekarang sangat mendambakan nasehat orang tua yang memperkuat, bukan memanjakan karena memang mereka hidup untuk zaman yang berbeda dengan zaman kedua orang tuanya seperti yang diisyaratkan oleh Rasulullah dalam haditsnya:
“Pilihlah tempat nuthfahmu untuk dibuahkan. Karena sesungguhnya anak-anakmu dilahirkan untuk zaman mereka yang berbeda dengan zamanmu.”
Demikian nasehat dan pesan Luqman dalam mendidik anaknya yang didahului oleh pendidikan akidah tentang keEsaan Allah dan pengetahuanNya yang absolut yang akan melahirkan sikap mawas diri, hati-hati dan muraqabatuLlah dalam bersikap dan bertindak. Kekuatan dan kemantapan akidah tersebut akan terespon dan termanifestasikan dalam berakhlak dan berperilaku kepada orang lain, terutama sekali terhadap kedua orang tua. Sungguh satu upaya yang serius dari seorang Luqman yang bijak untuk mendekatkan dan memperkenalkan seorang anak sejak dini dengan RabbNya yang berdampak pada kebaikan dan kesejahteraan lahir dan bathin, serta menjadikannya memiliki tingkat imunitas dan pertahanan diri yang kokoh menghadapi beragam godaan kehidupan yang dirasa kian melalaikan dan menjerumuskan. Allahu a’lam (Dr. Attabiq Luthfi, MA)








